Lombok Timur Terbesar Penyumbang Buruh Migran NTB

Cerita “Buruh Migran” yang sukses banyak, tetapi yang tak sukses juga banyak, bahkan yang membawa anakpun banyak bagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia, seminar ini semoga saja membawa angin segar bagi anak “Oleh-Oleh” ini.

Suaana pembukaan
Suaana pembukaan Seminar dan Lokakarya Akhir Program dengan tema ” Gerakan Inklusi Sosial Untuk Anak Buruh migran, Program Peduli NTB”

Mataram, CR – Seminar dan Lokakarya Akhir Program dengan tema “Gerakan Inklusi Sosial untuk Anak Buruh Migran Program Peduli Nusa Tenggara Barat (NTB)” yang di selenggarakan oleh BP3AKB bekerjasama dengan Yayasan Tunas Alam Indonesia yang bertempat di Aula Hotel Santika Kelurahan Pajang Barat Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Senin (13/6/2016) pukul 09.30 Wita.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB H.M Amin SH.MSi, Kemenko PMK Asisten Deputi di bidang Pemenuhan dan Perlindungan anak Bapak Marwan Syaukani, Direktur Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan Pembangunan (LPKP) Bapak Anwar Solihin, Direktur LSM Santai (Yayasan Tunas Alam Indonesia) Ibu Suharti,Tokoh agama, Tokoh masyarakat dan Tokoh Pendidikan serta seluruh tamu undangan yang di hadiri sekitar 70 orang.

Pantauan langsung dari media ini di lokasi acara pada pukul 09.20 Wita  menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjut pada pukul 09.23 Wita Pembacaan Do’a dibawa langsung oleh Ananda Azis Amsuri, dari komonitas Inklusi Sosial anak Buruh Migran.

” Ucapan Salam dan puji syukur kehadirat Nabi Muhammad SAW, Program Peduli Pilar anak dan remaja Marginal. Program peduli yang diinisiasi dari hasil Studi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang di luncurkan pemerintah sejak thn 2007 sd 2014.dan hasil diskusi terdapat marginal yang masih terpingirkan dalam implementasi,” kata Suharti panitia penyelenggara Seminar .

Suharti melanjutkan bahwa yang mewujudkan melalui Stigmatisati dan keadilan sosial  tidak dapat terdeteksi kemiskinan pada umumnya, gerakan Inklusi sosial kelompok marginal di Kabupaten dan provinsi.  Hal inilah yang melalui data di Dinas Tenaga Kerja dan Tranmigrasi NTB. Januari sampai Juli tahun 2014 dengan jumlah 24 ribu dan keseluruhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di NTB dan untuk seluruh indonesia.

“Sementara untuk Kabupaten Lombok Timur menjadi pengirim buruh migran terbesar sampai dengan 31 Mei 2014 berjumlah 10 ribu  dari data di BNP2TKI,” katanya. Adanya stigma negatif terhadap anak-anak yang di lahirkan oleh buruh migran perempuan ketika mereka sedang bekerja di luar negeri. Masyarakat anak ini di sebut, anak oleh-oleh, sebutan dari masyarakat yang dilahirkan oleh Tenaga Kerja Wanita (TKW) sewaktu mereka bekerja di luar negeri. Pengaruh derita yang besar terpenuhi atau tidaknya hak-hak dasar anak buruh migran oleh pemerintah pusat, lanjutnya,

Testimoni atau puisi yang dibacakan oleh anak-anak Inklusi Sosial untuk Anak Buruh Migran dan dilanjut kata

Sambutan dari Wakil Gubernur NTB H.M Amin SH.MSi, mengatakan salam hormat dan puji syukur telah terselengaranya Seminar dan Lokarya akhir program, Provinsi NTB adalalah urutan nomor 4 pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, baik lelaki maupun perempuan dengan meninggalkan keluarga mereka di kampung halaman.

” Untuk itu mereka memastikan bahwa semua mendapat perlindungan dan pendidikan yang tepat sesuai dengan komitmen bersama dalam UU no.35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, yang intinya menyebutkan bahwa perlindungan anak selain merupakan tangung jawab orang tua dan pemerintah juga merupakan tanggung jawab masyarakat dan lembaga sosial,” ujarnya. Dengan kewajiban bersama lanjutnya, pada saat ini adalah tanggung jawab pemerintah yang harus bisa memberikan mereka pendidikan yang layak mereka terima. Dengan puisi yang dibacakan oleh anak buruh migran tadi adalah ungkapan bathin mereka yang tersimpan dalam hati, mereka dan diantara mereka ada yang bahagia dengan keluarga dan ada anak yang ditinggal orang tua ke luar negeri untuk sesuap nasi.

“Banyak yang mereka hadapi seperti tindak kekerasan dan berbagai yang kita lihat pada mereka yang di stastuskan sebagai anak yatim,” katanya.

Perlindungan anak Buruh Migran harus berdasarkan prinsip perlindungan terhadap anak. Yaitu Prinsip atas Hak kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, Prinsip Non Diskriminasi, Prinsip Kepentingan Terbaik untuk anak bahwa dalam membahas berbagai macam program, kepentingan anak harus utama dan prinsip penghargaan atas pendapat anak.

” Dengan deklarasi tersebut kita harus benar-benar memberikan perhatian penuh untuk mencapai tujuan pendidikan inklusif, yaitu memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pendidikan yang terjangkau, Efektip, releven dan tepat dalam wilayahnya. Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, agar seluruh anak terlibat dalam proses pembelajaran,” jelasnya. H.M Amin SH.MSi, juga berharap agar bersekolah melaksanakan proses pembelajaran berlandaskan pada azas demokrasi, berkeadilan dan tanpa diskriminasi dengan melakukan perubahan yang praktis dan sederhana untuk hambatan setiap siswa dalam belajar.

” Saya berharap kita semua yang hadir di sini benar-benar Istiqomah mengemban tanggung jawab ini, mampu mengajak seluruh masyarakat berpatisipasi membangun gerakan Inklusi Sosial untuk anak buruh migran dengan cara Pendidikan Inklusif dan perlindungan mereka harus kita lakukan dalam berbagai  agamapun dan dalam buku alkitab manapunpun wajib hukumnya dan mendapatkan perlindungan layak bagi mereka,” harapnya. Hingga pada pukul 10.00 Wita Foto bersama dengan Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, SH.MSi dan anak Inklusi Sosial Buruh Migran dan akhir program selesai dengan tertib aman dan lancar.(BC).