Dispar Lotim Terus Tingkatkan Kapasitas Masyarakat Pelaku Wisata

Lombok Timur. CR | Sabtu (5/5/2019) Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur (Kab.Lotim) gelar kegiatan Pelantikan Paguyuban Terune Dedare Kab.Lotim masa bhakti 2019-2021 di aula Kantor Desa Teros Kecamatan Labuhan Haji.

Dalam kegiatan tersebut hadir Kepala Dinas Pariwisata didampingi Kepala Bidang Pemasaran dan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Kepala Desa Teros dan Lurah Tanjung.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pariwisata Dr.Mugni Menyampaikan, seharusnya semua yang pernah terpilih menjadi Terune Dedare, yang dipilih oleh dinas pariwisata, BPPD maupun oleh PMD bisa bergabung menjadi anggota dalam Paguyuban ini.

Kegiatan ini sebenarnya sudah lama berjalan tidak hanya saat ini, Sejak saya menjadi sub kepala dinas pariwisata tahun 2006 lalu saya pernah mengadakan kegiatan seperti ini dan pada waktu itu banyak yang terpilih menjadi terune dedare dan itu bisa dicari kembal anggotanya, imbuh Mugni.

Karena semakin banyak anggota itu akan semakin baik karena kita berorganisasi merupakan wadah kita untuk beramal dan organisasi bukan tempat kita mencari uang.

“Ber organisasi itu harus memiliki niat ibadah karena disitu tidak ada uang sehingga mari organisasi ini kita ikuti dan Insya Allah banyak manfaatnya dalam rangka mengembangkan wawasan dan pengetahuan serta kawan” katanya.

Sementara itu kaitan dengan kegiatan pariwisata lainnya Mugni, mengatakan  terus berjalan dan akan di tingkatkan melalui pengembangan kegiatan-kegiatan.

“Dalam rangka meningkatkan kapasitas para pelaku pariwisata dalam bentuk pelatihan, itu sudah berjalan yang dilaksanakan oleh Bidang Kapasitas dan oleh Bidang Pemasaran yang ada di dinas pariwisata”

kita harus pahami pariwisata itu kita menjual sesuatu yang menarik dan sesuatu yang memiliki daya tarik yang unik, salah satu adalah budaya asli sasak.

“Orang atau wisatawan yang datang kesini itu ingin melihat budaya asli Sasak bukan budaya orang, jadi harus kita kembali cintai budaya kita. Orang jepang saja sangat kokoh mencintai budayanya, tapi dia menguasai dunia” harap dan contoh Mugni.

“Sekarang kami disektor pariwisata sudah mengambil kebijakan pada hari Jumat merupakan Jelo Dengan Sasak (Sasak Day) sehingga setiap hari jum’at akan ada keharusan bagi pegawai pariwisata memakai pakaian adat sasak Muslim (Kain dan Kopiah)”

“Pada Hari Jum’at juga di dinas pariwisata tidak boleh menggunakan bahasa lain selain menggunakan bahasa sasak, karena pada hari itu tidak ada yang namanya kepala dinas, tidak ada kepala bidang, tidak ada Kasi, yang ada hanya Amaq-Amaq dan Inaq-inaq”.

“Kalau ada yang datang kekantor dinas pariwisata pada hari jum’at itu lalu tidak bisa berbahasa Sasak jangan datang kekantor dinas pariwisata karena itu kebijakan yang kami ambil untuk dapat melestarikan budaya Sasak dan kaitan dengan kebijakan itu sudah diajukan kebupati” jelasnya. (Ari)