DPW HMG-GEMAS NTB, Minta Klarifikasi Soal Tuduhan MBG Program Maling

Mataram- Narasi yang menyatakan program makan bergizi gratis (MBG) sebagai “program maling” serta menyebut pembuat program sebagai “orang bodoh” dinilai tidak mencerminkan kritik yang berbasis data serta kajian objektif.

“Jika sebuah program disebut maling, maka harus dijelaskan secara terbuka, apa yang dicuri, siapa pelakunya, dan di mana locus delicti-nya. Tuduhan kriminal bukan opini bebas. Itu harus berbasis bukti,” tegas Ketua DPW Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas NTB,Bapak Hairul Pasihin,MM.dalam keterangan yang diterima redaksi di Mataram,Rabu, 18 Februari 2026.

Lanjut Haeril, narasi tersebut bisa menimbulkan kegaduhan dan berdampak langsung pada Mitra, pelaku UMKM, petani, serta pekerja Relawan,bagian distribusi yang terlibat ekosistem program MBG.

Atas dasar itu,HMD-GEMAS NTB menilai bahwa tudingan ini harus diuji secara objektif dan tidak boleh menjadi stigma kolektif terhadap ribuan pelaku ekonomi kecil.

Oleh karena itu, DPW HMD-GEMAS NTB menyerukan klarifikasi terbuka atas pernyataan tersebut.

“Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi tuduhan kriminal harus dibuktikan. Jangan sampai rakyat kecil menjadi korban narasi yang tidak terverifikasi,” Demikian jg Arsa Ali Umar,S.Pd.i Humas HMD-GEMAS NTB menanggapi kritikan Ketua BEM UGM tersebut.

Narasi MBG sebagai program maling sebelumnya dilontarkan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto. Kritik tersebut disampaikan lewat unggahan di Instagram pribadinya @tiyoardianto_.

“MBG adalah #malingberkedokgizi , tulis dia, dikutip Selasa, 17 Februari 2026.

Di sisi lain, dia menyebut program MBG tersebut berpotensi menjadi ladang kepentingan elite dan membuka ruang penyalahgunaan anggaran negara.

“Kita harus mulai bicara bahwa MBG bukan Makan Bergizi Gratis. Bergizi saja tidak. Apalagi gratis. Itu uang kita yang dialokasikan serampangan! Untuk apa? Untuk bagi-bagi ke kroninya,” tegas Tiyo