Aktualisasi Fitrah Manusia dalam Membangun Wawasan Masa Depan

Opini || Kita sekarang sedang berada di bagian akhir abad XX, sebuah abad yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang serba mengagumkan. Dunia kini seakan-akan telah berubah menjadi sebuah kampung global yang diperkuat oleh jaringan komunikasi elektronik yang serba canggih. Suatu peristiwa di Afrika Selatan, misalnya, dapat kita ikuti beberapa saat setelah peristiwa tersebut terjadi. Tidak ada yang dapat kita rahasiakan sekarang.

Di sisi lain, abad ini adalah abad yang penuh gejolak dan pertentangan. Dari dalam rahimnya telah meledak dua Perang Dunia yang sangat dahsyat dan telah membunuh ratusan ribu manusia. Kemudian untuk sekitar 40 tahun sesudah Perang Dunia II berlangsung pula Perang Dingin antara negara adikuasa yang nyaris membawa dunia
ini ke jurang Perang Dunia III. Pada akhir abad ini pula kita menyaksikan rontoknya komunisme yang semula diperkirakan oleh sementara orang akan menjadi alternatif bagi kapitalisme yang zalim. “Komunisme sudah tidak berbunyi lagi,” kata Aleksandr Solzhenitsyn, sastrawan dan pemikir Rusia, pemenang hadiah Nobel.

Dalam pada itu, umat Islam sekalipun sebagian besar telah bebas dari belenggu penjajahan asing, mereka belum lagi menemukan jati dirinya secara mantap dan meyakinkan sebagai manusia beriman. Hati mereka belum lagi terbuka lebar untuk menerima diktum Al-Qur’an “Sesungguhnya manusia beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu itu. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa pilihan yang halal bagi umat Islam ialah bersaudara, sementara pilihan yang lain hanyalah akan membawa kepada kehinaan dan malapetaka

Namun umat Islam, dengan alasan yang dicari-cari, telah mengabaikan prinsip persaudaraan ini selama kurun yang panjang, padahal buahnya tidak lain kecuali penderitaan. Nurani mereka tidak cukup peka untuk membaca isyarat-isyarat sejarah tentang betapa vitalnya hubungan persaudaraan antara satu bangsa Muslim dengan bangsa Muslim yang lain. Mereka seolah-olah kehilangan kompas.

Di lapangan ilmu dan teknologi, pihak lain telah sangat jauh di depan, sementara umat Islam masih menggapai-gapai di buritan. Memang, di antara negeri-negeri Muslim ada yang kaya dengan sumber-sumber alam, tapi kemampuan kita untuk mengelolanya masih sangat terbatas. Posisi kita berada dalam posisi menggantung. Tergantung kepada negara-negara yang berteknologi maju. Lalu ini adalah sebuah kenyataan sejarah sejak puluhan tahun yang lalu bahwa negara maju memang mengharapkan agar umat Islam tidak beranjak dari posisi tergantung itu. Sekali beranjak, mereka tidak akan leluasa lagi mendikte dan mengeksploitasi kita. Oleh sebab itu, temponya sudah sangat mendesak bagi umat Islam untuk pandai-pandai mengaktualisasikan potensi fitrahnya agar kita punya posisi yang berwibawa dalam percaturan global. Jangan diharapkan dunia yang serba sekuler dan materialistis ini akan merasa belas kasihan kepada kita. Nasib kita berada di tangan kita sepenuhnya.

Kemerdekaan

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa suatu tahap perjuangan telah kita lalui, yaitu perjuangan merebut kemerdekaan. Alhamdulillah, kini sebagian besar negeri Islam telah bebas secara formal. Akan tetapi, di bidang ekonomi dan teknologi kita belum lagi mampu berdikari, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Ini merupaka tahap perjuangan yang kedua dan akan memakan waktu dan strategi budaya yang berwawasan jauh ke depan yang lebih lama. Diperlukan strategi perkembangan Pertimbangan-pertimbangan rasional dan moral dalam menyusun strategi ini haruslah saling mendukung.

Pembangunan yang kita inginkan tidak semata-mata dapat diukur dalam matrik pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan pembangunan manusia. Filsafat perjuangan kita mengajarkan bahwa yang kita dambakan bukan hanya bebas dari penindasan asing, tapi juga harus bebas dari penindasan siapa pun dan dalam bentuk apa pun. Fitrah manusia hanyalah bisa berkembang secara bermakna dalam iklim kebebasan dan kemerdekaan. Alangkah tingginya nilai sebuah kebebasan. Kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan binatang jalang!

Demi untuk menghadapi gabaran tersebut, satu-satunya jalan yang terbuka bagi umat Islam ialah agar mereka dapat tampil ke gelanggang sejarah, nasional maupun global, sebagai umat yang cerdas dan cergas, Kecerdasan adalah lawan dari kebodohan. Oleh karena kebodohanlah, kita pada masa lampau sampai dijajah pihak lain. Kebodohan adalah pangkal dari segala macam kehinaan dan rasa rendah diri. Islam tidak mungkin jaya dan mulia bilamana umatnya masih berlumur dalam kebodohan dan keterbelakangan. Barangkali di sini terletak

rahasia mengapa ayat Al-Qur’an yang turun pertama kali jalah dalam bentuk imperatif, perintah untuk membaca (iqra)

Perintah iqra’ adalah lambang peradaban yang tinggi dan bermoral. Akan tetapi, mengapa umat Islam pada masa lampau bersedia hidup dalam “rahmat” buta huruf? Inilah sebuah keteledoran sejarah yang tidak boleh terulang kembali, padahal dunia Islam sebelum menjadi bodoh pernah memimpin peradaban yang paling maju selama kira-kira enam abad, berkat realisasi iqra’ dalam semua dimensi kehidupan.

Bermula dari bagian akhir abad XIX, umat Islam telah sadar kembali. Sadar akan kesilapan sejarah yang pernah terjadi. Kita sekarang sudah dalam proses untuk menjadi cerdas dan kreatif. Seorang pengarang pernah berucap bahwa kekayaan yang kita cari sebenarnya bukan terletak di bumi atau pada jumlah manusia. Kekayaan itu terletak terutama dalam semangat dan kemampuan manusia untuk berpikir dan mencipta.

Bumi yang kaya ditambah jumlah penduduk yang besar bukan merupakan jaminan bagi kekayaan suatu bangsa. Bangsa itu baru dapat menjadi jaya bila rakyatnya memiliki kemampuan yang tinggi untuk berpikir dan mencipta. Jika sekadar jumlah besar, sekalipun itu penting sebagaimana manpower, tapi bila rakyat pasif dan statis, bukan mustahil malah akan menjadi beban peradaban. Oleh sebab itu, menjadi tugas kita bersama untuk mempercepat proses kita benar-benar berwibawa dalam percaturan dunia.

Potensi fitrah kita jangan kita sia-siakan untuk sesuatu yang tidak bermakna. Kesungguhan dan keseriusan dalam bertugas dan mencari ilmu wajiblah menjadi titik perhatian utama kita. Kita tatap masa depan dengan kepala tegak, tapi dengan hati yang senantiasa tunduk kepada Allah dan kepada prinsip kebenaran. Hidup ini terlalu singkat untuk dipermainkan. Semoga, dengan sikap yang penuh perhitungan, umat Islam akan mampu melangkah memasuki abad XXI dengan rasa percaya diri yang tinggi. Kita ucapkan selamat tinggal kepada budaya hidup yang berleha-leha. Kita mantapkan niat untuk berpikir besar dan berbuat besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *