Pestival Bedah Menange Rambang Telan Korban Jiwa

Suasana di lokasi Pestival Bedah Menange atau Rowah Rambang Desa Surabaya

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id – Pestival Bedah Menange atau Rowah Rambang desa Surabaya yang digelar oleh pemerintah desa Surabaya Kecamatan Sakra Timur kabupaten Lombok Timur pada hari Sabtu – Minggu (17 – 18 /11/2018) menelan korban jiwa.

Adalah Ardiansyah (7), bocah laki-laki yang kini masih duduk dibangku kelas 1 salah satu Sekolah Dasar Negeri yang ada di desa Surabaya tersebut meregang nyawa karena tenggelam di menange (danau-red) pada kedalaman tidak kurang dari  4 meter.

“Awalnya korban berada dibelakng kakeknya yang saat itu tengah membantu warga lainnya membuat aliran air danau menuju ke laut supaya air danau mengecil. Beberapa saat kemudian si kakek baru menyadari kalau cucunya yang tadinya bermain air dibelakangnya sudah tidak ada,” ujar Su’aeb salah seorang saksi mata yang terlibat langsung dalam pencarian korban tenggelam.

Lebih jauh lelaki jangkung yang juga Kaur Trantib di kantor desa Surabaya tersebut pada Wartawan, Sabtu, (17/11/2018) menuturkan, bahwa kejadian tersebut tergolong aneh dan singkat.

Betapa tidak, bocah yang tadinya berada tidak jauh dari kakeknya yang sedang membut aliran danau itu tiba-tiba menghilang, dan selalng kurang dari satu jam bocah malang tersebut ditemukan tak bernyawa didalam danau.

“Padahal, waktu kejadian banyak orang ditempat itu, tapi anehnya tak seorangpun yang melihat korban berenang lalu tenggelam,” tambah Su’aeb.

Banyak spekulasi warga dan pengunjung atas kejadian tersebut, dimana bocah malang yang meninggal dunia itu adalah tumbal atau korban atas marahnya mahluk tak kasat mata penunggu danau tersebut.

Bahkan, Delum, salah seorang warga yang dipercayakan pemerintah desa setempat sebagai mangku untuk melakukan ritual adat sebelum acara buka menange, bebera saat setelah evakuasi korban tenggelam ditengah kerumunan wraga yang berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengatakan, ada yang keliru dalam acara buka menange sehingga ada yang harus menjadi korban.

Bahkan, Delum menegaskan mahluk halus penghuni danau akan meminta satu korban lagi sehingga korban buka menange menjadi dua. Dan itu semata-mata karena adanya kesalahan setelah ritual dilakukan.

“Sebelumnya saya pernah berpesan kepada Kepala Desa, jangan dibuka dulu danaunya sebelum saya yang mengawali,” ujarnya sedikit menyalahkan pemerintah desa atas kejadian itu.

Lebih jauh ia mengingatkan kepada warga yang kebetulan membawa anaknya dilokasi acara supaya lebih berhati-hati, sebab tidak menutup kemungkinan mahluk halus penghuni danau akan meminta korban lagi.

Sementara itu, Kepala Desa Surabaya, M Rifa’i Pajrin, saat dikonfirmasi wartawan via telepon sellular, Sabtu malam (17/11/2018) ia membenarkan kejadian itu.

“Namanya juga musibah,” ujarnya singkat. (cr-one)