
Lombok Timur , CR- Saat ini NKRI sedang diuji dengan berbagai hal, baik yang datangnya dari intern maupun extern. Semua ujian tersebut haruslah dihadapi dengan tabah dan tawakkal oleh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan kebesaran falsafah Negara Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) haruslah dibela dengan semangat jiwa Bhineka Tunggal Ika dan Falsagah Negara kita Pancasila.
Itulah yang menjadi penekanan kata sambutan yang disampaikan oleh Wakil Bupati Lombok Timur (Lotim), Drs. Haji Muh.Haerul Warisin, M.Si., Senin (28/11) lalu, dalam acara Hiziban dan Doa Akbar yang diadakan Pimpinan Daerah Pemuda NW Lombok Timur bersama Yaysan Pontren Syaikh Zainuddin NW Anjani.
Menurut Haerul Warisin yang lebih beken dengan panggilan Haji Iron, NKRI sebagai suatu keniscayaan dan tak bisa ditawar-tawar.
“NKRI harga Mati,” tegasnya, sembari memberi komando kepada ribuan santri, mahasiswa dan Pemuda NW yang memenuhi Aula Ponpes As-Syeikh Zainuddin NW Anjani.
“Kalau saya mengatakan NKRI maka jawablah dengan Harga Mati,” katanya dengan suara lantang.
Tak dapat dipungkiri memang akhir-akhir ini ujian besar telah dialami oleh Negara Indonesia. Apapun bentuknya ujian tersebut, haruslah disikapi dengan kesabaran sembari kepada hittah perjuangan para Pahlawan Negeri ini. Disinyalir bahwa setiap perjuangan untuk keutuhan NKRI yang berfalsafah Pancasila selalu ada upaya pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi yang bertujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.
“Saya rasa acara ini sangat bermanfaat dan memberi kekuatan untuk kita tetap menjaga NKRI dalam kondisi apapun dalam ridho Allah SWT,” tandasH. Haerul Warisin.
Menjawab pertanyaan wartawan yang menghubungkan antara kondisi Negara saat ini dengan acara Dzikir dan Istigosah. Dandim 1615 Selong, Letkol Mustafa dalam sambutan Korem Wirabakti 162 Mataram menyampaikan bahwa keutuhan NKRI harus kita jaga dan lestarikan.
Pancasila dan UUD 45 serta kearifan lokal Bhineka Tunggal Ika adalah perekat yang menjamin keutuhan NKRI. Hittah perjuangan para tokoh negeri ini yang nota bene banyak berurat berakar dari kalangan Pesantren dan peran serta para Ulama’nya. Bahkan kemudian para pahlawan dan suhada’ negeri ini banyak terinspirasi karenanya. Ketika Bung Tomo maju ke depan memimpin pasukannya dalam melawan inprealisme masa dulu dengan diiringi ucapan “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar”. Maka, sesungguhnya kalimah dzikir dan Do’a (Istigosah) menjadi suatu hal membudaya dalam membentengi NKRI ini dalam kondisi apapun, sehingga memberi rasa aman bagi bangsa dan NKRI ini.
Sedangkan Wakil Ketua Yayasan Pontren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Hj Lale Yaqutunnafis, MM., dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini sebagai wujud kepedulian atas keadaan yang terjadi akhir-akhri ini yang menimpa agama, bangsa dan negara kita NKRI ini.
“Ini ada acara yang sangat bagus. Doa adalah bagian yang tidak boleh ditinggalkan ummat Islam dalam menghadapi berbagai masalah yang dialami. Di samping itu kegiatan semacam ini adalah hal yang rutin dilakukan warga NW seperti yang diajarkan guru Besar NW almagfurlah Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid,” tandasnya.
Beginilah seharusnya Pemuda NW, tetap tanggap dan cekatan dalam melihat persoalan. Sebagai salah satu garda terdepan dalam mengamankan kebijakan Ketua Umum PBNW juga harus peka terhadap persoalan yang melanda agama, nusa dan bangsa.
Ketua panitia, Hasanah Efendi, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai wujud nyata kepedulian Pemuda NW atas perkembangan dan masalah yang dihadapi agama nusa dan bangsa kita.
“Hiziban dan doa ini merupakan khas pesantren yang membudaya dan juga sebagai implikasi dari perwujudan dari Muhasabah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah untuk segera keluar dari permasalahan,” kata Hasanah Efendi, Ketua Pemuda NW Lotim (Tur)

