
LOMBOK TIMUR, Corong Rakyat – Untuk meredakan permasalah yang kerap muncul di tengah masyarakat, Kepala Desa (Kades) Lenek, Suhardi SH melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan masyarakatnya. Sebagai desa yang berpenduduk padat, yakni 8000 jiwa, kerawanan sosial menjadi tantangan utama desa Lenek.
Namun demikian, pengalaman hidup di “jalan” membuat Suhardi dengan cepat memahami akan persoalan dan jalan keluar terkait persoalan kemasyarakatan.
Begitu juga pengalamannnya sebagai Kepala Dusun di Lenek membuatnya dengan mudah diterima warga.
Lenek menjadi salah satu desa yang banyak penduduknya memilki pemikiran kritis terkait kebijakan pemerintah daerah hingga tingkat desa.Hal ini dibuktikan dengan banyaknya berdiri lembaga sosial dan hukum maupun budaya di desa ini.
“Memilki masyarakat yang kritis juga sangat membantu terutama memberikan pemahaman terkait program pemerintah desa,” ucap Suhardi saat ditemui Corong Rakyat di ruang kerjanya, Rabu (7/9).
Namun, sisi lain keberadaan tokoh pemuda dan kelompok kritis ini juga dengan mudah mempengaruhi masyarakat awam.Cara pendekatan Kades Lenek untuk merangkul kelompok masyarakat ini dengan pendekatan komunikasi yang menyentuh hati sebagai warga Lenek.
Kebanggan menjadi warga desa Lenek ini membuat kelompok masyarakat ini sulit untuk terpecah belah. Kekompakan masyarakat ini justru membuat Suhardi dengan leluasa melakukan pemabngunan fisik maupun pemberdayaan untuk kepentingan masyarakat.
“Kalau bersih kenapa risih meton,” ucapnya menirukan kalimat iklan di tv.
Mengingat desa Lenek yang sudah memiliki fasilatas publik yang memadai, program desa Lenek lebih fokus kepersoalan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan peningkatan kapasitas layanan publik saja.
Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, kelompok tani dari desa Lenek mendatangi Polsek Aikmel. Kedatangan petani itu memenuhi panggilan Polisi untuk dimintai keterangan atas laporan pengurus Pamdes desa Lenek. Petani Subak Lenek ini dilaporkan dengan tuduhan perusakan pipa saluran air bersih warga Lenek.
”Mereka ini para petani dari desa Lenek,” terang IPDA Halidi.
Mediasi antar kelompok masyarakat pengguna air bersih dan petani yang mengunakan mata air sebagai sumber pengairan berjalan mulus. Pihak kepolisian terbantu dengan hadirnya Kades Lenek, Suhardi.
Dugaan situasi mediasi akan memanas tidak terbukti, dengan kelembutan namun ketegasan Suhardi memberikan pemahaman kepada dua kelompok tersebut. “Apa kemeleq da?”, ujar Kades ini langsung menukik kepersoalan.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, mediasi dua kelompok ini selasai dengan kesepakatan pengunaan air bersih dilakukan dengan dua pipa. Satu pipa untuk warga desa Lenek Pesiraman, satu pipa untuk warga Lenek.
Salah satu contoh penyelesaian ala Suhardi ini tidak banyak dimiliki oleh Kades lain di Gumi Patuh Karya ini.
Konsep Suhardi dalam meraih simpati warganya sederhana, menghadiri acara warga seperti jika ada kematian, memenuhi undangan selamatan bahkan dirinya kerap ikut nongkrong di pinggir jalan bersama warga atau pemuda desa setempat.
Dengan mendekatkan diri langsung seperti diriya dapat mendengar langsung apa saja yang menjadi keinginan warganya.
Dalam menyusun anggaran dan mejalankan program desa pun, Suhardi mengutamakan keterbukaan. Tidak satupun kegitan pembangunan fisik yang tidak melalui mekanisme perencanana dan pembahasan. Sampai penentuan program mana yang lebih dahulu diekskusi semuanya atas persetujuan masyarakat.
Ribon, salah satu warga desa Lenek mengakui kemampuan Suhardi dalam hal penyelasaian persoalan desa.
Dikatakannya, selama Suhardi memimpin tidak ada persoalan yang berlarut-larut. “Hari ini ada persoalan,hari ini juga diselesaikan,” tegas Ribon.
Mengenai pembanguan fisik di desa Lenek, terutama pembukan jalan, hampir tidak ada wilayah dalam pemerintahan desa Lenek yang tidak terakses.Begitu juga rabat jalan menuju perkampungan warga, tinggal 30 persen yang belum dirabat. (cr-mil*)

