MANDALIKA, LOMBOK TENGAH — Kemegahan konser musik dalam rangkaian Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika tidak lepas dari sorotan terhadap kondisi area acara yang dikeluhkan berdebu. Persoalan ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pelayanan dan kesiapan fasilitas bagi penonton yang datang dari berbagai daerah.
Mariani, penonton asal Magetan, Jawa Timur, Iketut penonton asal Bali Merasa Kecewa dengan Penyelenggara.
Kehadiran penonton dari luar daerah maupun masyarakat lokal memperlihatkan luasnya antusiasme terhadap ajang MotoGP Mandalika. Namun, antusiasme tersebut semestinya diimbangi dengan pengelolaan lokasi yang memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengunjung.
Pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, panggung hiburan dijadwalkan menghadirkan D’Masiv pada pukul 19.00 WITA dan Judika setelahnya. Kedua penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hiburan yang melengkapi perhelatan balap internasional di Mandalika.
Mariani dari Magetan dan Iketut Jadi Sorotan Mariani, yang hadir sebagai penonton dari Magetan, Jawa Timur, dan Iketut , menggambarkan pengalaman pengunjung dalam penyelenggaraan acara tersebut. Pengalaman penonton seperti keduanya penting untuk menjadi bahan evaluasi. Sebab, keberhasilan acara tidak hanya dinilai dari kemeriahan panggung,
popularitas artis, dan jumlah pengunjung, tetapi juga dari kondisi fasilitas yang benar-benar dirasakan selama berada di lokasi.
Keluhan mengenai debu perlu mendapat perhatian, terutama apabila kondisi tersebut mengganggu kenyamanan penonton ketika menikmati pertunjukan. Pengelola dan penyelenggara juga perlu memastikan bahwa area konser memiliki penanganan lingkungan yang memadai, termasuk pengendalian debu dan kesiapan fasilitas pendukung.
Keterangan terperinci dari Mariani dan Iketut mengenai pengalaman mereka di lokasi masih perlu dihimpun agar suara penonton dapat disajikan secara akurat dan tidak sekadar menjadi asumsi pemberitaan.
ITDC Perlu Menjawab Persoalan Kenyamanan Penonton Sebagai pengelola kawasan The Mandalika, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) perlu memastikan bahwa kualitas pelayanan di kawasan tersebut sejalan dengan citra destinasi pariwisata internasional yang ingin dibangun.
Sebelum penyelenggaraan MotoGP 2026, ITDC bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan telah membahas kesiapan sejumlah sektor, termasuk transportasi, keamanan, layanan kesehatan, pariwisata, serta keterlibatan masyarakat.
Karena itu, apabila keluhan mengenai debu di area konser terbukti terjadi dan mengganggu pengunjung, persoalan tersebut patut masuk dalam evaluasi penyelenggaraan.
Publik berhak memperoleh penjelasan mengenai langkah pengendalian debu, kondisi fasilitas di area penonton, serta mekanisme penanganan keluhan selama acara berlangsung.
Mandalika Jangan Hanya Diukur dari Keuntungan MotoGP Mandalika merupakan kesempatan strategis untuk memperkenalkan NTB kepada dunia dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, manfaat penyelenggaraan acara besar tidak semestinya hanya dilihat dari aspek komersial.
Kualitas pelayanan, kenyamanan pengunjung, keselamatan, kebersihan lingkungan, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal juga harus menjadi ukuran keberhasilan.
Kritik terhadap persoalan debu bukan berarti menolak penyelenggaraan MotoGP ataupun konser musik. Sebaliknya, kritik menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola yang lebih baik dan memastikan bahwa pengunjung mendapatkan pengalaman yang sepadan dengan biaya serta waktu yang mereka keluarkan.
Jangan sampai Mandalika hanya tampil megah di panggung promosi, tetapi persoalan mendasar di lapangan luput dari perhatian. ITDC dan penyelenggara perlu menjadikan setiap keluhan sebagai bahan evaluasi terbuka demi menjaga kepercayaan penonton dan reputasi pariwisata NTB.

