GREAT Institute Gelar FGD “Peran Indonesia Pasca Perang Amerika–Iran”, Desak Langkah Strategis Diplomasi Bebas Aktif

JAKARTA – Dinamika geopolitik global kembali bergejolak pasca-eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Merespons pergeseran peta kekuatan internasional tersebut, lembaga kajian GREAT Institute menggelar Focus Group Discussion (FGD) mendalam bertajuk “Peran Indonesia Pasca Perang Amerika–Iran” di Jakarta pada Selasa (7/7/2026).

Acara strategis ini menghadirkan dewan direktur, pakar geopolitik, akademisi, serta tokoh nasional. Di antaranya adalah Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Dr. Syahganda Nainggolan, Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr.

Teguh Santosa, pakar geopolitik Timur Tengah Dina Sulaeman, Ketua Umum AKAPSI sekaligus bupati Lahat Bursah Zarnubi, serta sederet pengamat seperti Dr. Nasir Tamara, Drs. Dian Wirengjurit, dan Dr. Anton Permana.

Mendorong Indonesia Menjadi ‘Bridge Builder’ Global
Dalam forum tersebut, para pakar menekankan bahwa Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus anggota strategis G20, ASEAN, OKI, dan BRICS memiliki modal legitimasi politik yang sangat kuat. Posisi geografis dan diplomasi bebas aktif menempatkan Indonesia pada posisi ideal sebagai jembatan komunikasi (bridge builder) untuk meredakan rivalitas global di Timur Tengah.

“Persaingan antarnegara besar kini tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi sudah merambah ke perang siber, informasi, ekonomi, dan teknologi.

Indonesia dituntut memiliki strategi nasional yang matang agar mampu menjadi aktor aktif, bukan sekadar objek dinamika global,” ungkap salah satu panelis diskusi.

Rekomendasi Strategis untuk Presiden Prabowo Subianto
Menindaklanjuti hasil diskusi, Dr. Syahganda Nainggolan menyampaikan beberapa rekomendasi penting bagi jajaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto demi memperkuat posisi tawar (bargaining power) Indonesia di kancah internasional:
Penghormatan Diplomat Tingkat Tinggi: Mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan sikap diplomatik yang tegas dan terhormat, salah satunya dengan memberikan penghormatan langsung atau menghadiri momentum penting pasca-konflik, termasuk menghadiri pemakaman Pemimpin Tinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Memperluas jejaring internasional tidak hanya melalui jalur formal antar pemerintah (government-to-government), tetapi juga melalui penguatan hubungan antar-masyarakat dan lembaga kajian sipil.

Apresiasi dari Kalangan Aktivis Mahasiswa

Pelaksanaan dialog publik ini juga mendapatkan respons positif dari berbagai elemen mahasiswa, termasuk Pengurus Pusat Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PP SEMMI).

Bendahara Umum PP SEMMI, Muh. Imam Perkasa, menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif yang digagas oleh GREAT Institute. Menurutnya, kajian geopolitik komprehensif seperti ini sangat dibutuhkan oleh generasi muda dalam memetakan arah bangsa.

Menurut imam “Mengambil pelajaran dari ketahanan domestik Iran yang mampu bertahan dari embargo ekonomi puluhan tahun dengan memperkuat kemandirian Indonesia di bidang energi, pangan, teknologi, serta industri pertahanan” ungkapnya.

“Kegiatan dialog ini merupakan bagian krusial dari upaya kita bersama menjemput Indonesia Emas 2045. Menjaga perdamaian dunia merupakan amanah konstitusi yang tertuang jelas dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan peran aktif diplomasi kita di Timur Tengah adalah bukti nyata implementasinya,” pungkas Imam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *