Jakarta – Pengurus Besar Serikat Pelajar Muslimin Indonesia (PB SEPMI) menyatakan keprihatinan mendalam atas maraknya pembiaran ekspresi LGBT di ruang publik. SEPMI menilai fenomena ini sebagai “penyakit bangsa baru” yang mengancam fondasi akidah dan moral generasi muda.
“Penyakit bangsa bukan zalimnya penguasa, tapi miskinnya organisasi” – H.O.S Tjokroaminoto. Hari ini penyakitnya bertambah: pembiaran LGBT di ruang publik. Kami sepakat dengan Majelis Ulama Indonesia. Kekhawatiran para ulama sangat berdasar.
Desakan untuk memperketat sanksi hukum bagi pelaku penyimpangan seksual sesama jenis sudah berada di koridor yang tepat dan konstitusional,” tegas Ketua Umum PB SEPMI.
SEPMI memandang, jika negara abai dan membiarkan penyimpangan seksual dinormalisasi di ruang publik, maka sama saja negara merusak generasi penerusnya sendiri. Ruang pendidikan, sekolah, dan pesantren harus steril dari propaganda yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, serta nilai-nilai agama yang dianut mayoritas bangsa.
Langkah Strategis SEPMI: Dua Jalur Perlawanan
Untuk merespons persoalan ini, PB SEPMI mengambil langkah jelas dua arah:
Pertama, Desakan ke Negara.
PB SEPMI mendesak negara, pemerintah, DPR RI, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset & Teknologi untuk segera mengambil langkah hukum dan edukasi yang komprehensif. Negara harus hadir membuat regulasi yang tegas, membatasi ruang gerak propaganda LGBT, dan memperkuat pendidikan karakter berbasis agama. Ini aspirasi umat, bukan “kebebasan kebablasan”.
Kedua, Gerakan Kader ke Lapangan.
Sebagai organisasi kader pelajar muslim, SEPMI akan turun langsung ke sekolah, madrasah, dan pesantren. Kami maksimalkan dakwah persuasif, kajian akidah, dan penerangan agama untuk membentengi pelajar dari ideologi menyimpang.
“Perang pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. SEPMI menolak segala bentuk penyimpangan seksual, tapi kami juga merangkul mereka yang terlanjur tersesat agar kembali ke fitrah. Pendekatan kami keras pada ide, tapi lembut pada manusia,” lanjut Ketum PB SEPMI.
PB SEPMI mengingatkan, menjaga akidah pelajar sama dengan menjaga masa depan Indonesia. Jika akidah pelajar rusak hari ini, maka rusaklah peradaban bangsa 20 tahun mendatang. Karena pelajar adalah pemimpin masa depan, dan pemimpin masa depan harus bersih akidahnya.
SEPMI mengajak seluruh elemen bangsa – ulama, guru, orang tua, dan masyarakat sipil – untuk bersatu menolak normalisasi LGBT. Diam terhadap kemungkaran sama dengan merestuinya.
SEPMI TIDAK AKAN DIAM SAAT AKIDAH PELAJAR DISERANG.||RI CR

