82 Tahun Ansor Benteng Terdepan Demokrasi Dan Kebhinekaan

Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Dhohir Farisi menegaskan bahwa Ansor telah dan akan senantiasa menjalani peran sejarahnya menjadi benteng terdepan memperjuangkan dan mempertahankan tetap tegaknya NKRI yang berlandaskan Pancasila dan berkonstitusi UUD 1945.

logo GP Ansor
logo GP Ansor

Jakarta, CR – Ideologi dan pandangan hidup  berbangsa bernegara itu, diantaranya mempertahankan kokohnya persatuan dari berbhinekanya asal-usul, corak, ciri, adat istiadat dari suku-suku dan agama serta keyakinan kita. Kendati dalam implementasinya tidak selalu mudah, menurut Farisi, perjuangan mengukuhkan persatuan Indonesia sejauh ini telah selamat dari banyak ujian yang keras.

Saat ini di hadapan kita menurut Dhohir Farisi sedang berlangsung lagi gejala-gejala awal yang mengkhawatirkan semua elemen bangsa. Tampak layar perahu kebangsaan kita sedang coba disobek di sana sini untuk menghambat lajunya.

Namun, bagi Ansor berlaku hukum besi sejarah, bahwa pada momen-momen krusial bangsa, Ansor tampil menampakkan lebih jelas dan tegas garis kebangsaan yaitu menguatkan dan memajukan negara. “Ansor sudah membuktikan itu sepanjang 82 tahun usianya, barang siapa yang ingin mencoba merusak persatuan dan demokrasi yang bersumber dari Pancasila dan UUD’45 berarti akan berhadapan dengan GP Anshor. Harapan kita semua, Semoga tidak terjadi apa-apa,” ujarnya kepada pers di Jakarta, Minggu (24/4) menyambut hari ulang tahun GP Anshor yang ke 82 tahun.

Jalan beradab bagi kita di tengah kemajuan peradaban kehidupan bangsa-bangsa di dunia, menurut suami dari Yenny Wahid itu, adalah dengan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, yaitu senantiasa menempuh dan mempertahankan bangsa besar ini di jalan demokrasi kerakyatan dalam hikmat kebijaksanaan musyawarah/perwakilan. “Masa depan NKRI harus diletakkan berdiri tegak di atas landasan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup, sumber inspirasi kita dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Farisi.

Ia menjelaskan bahwa sebagai organisasi pemuda tertua GP Anshor telah terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankannya sampai hari ini.

“Pengorbanan rakyat sudah sangat mahal untuk kemudian membiarkan sektarianisme berkembang dan menghancurkan bangunan proklamasi 1945. GP Anshor menyerukan persatuan pada seluruh rakyat untuk menyadarkan dihentikannya sikap-sikap sektarian sempit yang berkembang belakangan ini,” tegasnya.

Dhohir Farisi mengingatkan bahwa semua warga negara Indonesia adalah pemilik sah masa depan Indonesia dan tidak ada lagi dikotomi pribumi dan non pribumi karena semua berkewajiban sama membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Ia mengutip percakapan mendiang KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke empat,  tentang siapa yang disebut bangsa Indonesia. Waktu itu Gusdur mengutip tulisan Balfas tahun 1952 berjudul, “Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sejati.”  yang diterbitkan di Jakarta oleh Pradjaparamita.

Balfas mengutip Dr. Cipto di tahun 1917 tatkala menanggapi perdebatan di antara Soetatmo Soeriokoesoemo versus Liem Hian Koen tentang siapa yang disebut sebagai bangsa Hindia:
“Kata bangsa Hindia ini termasuk juga peranakan Eropa dan juga peranakan Tionghoa. Mereka ini sesudah dilahirkan di bawah lambaian nyiur lebih banyak dibesarkan oleh babu Sarinah daripada oleh ibunya sendiri, belum lagi disebutkan hal-hal yang acapkali terjadi, yaitu mereka yang dikandung dan dilahirkan oleh babu Sarinah yang itu juga.”

Jadi menurut Farisi, Gus Dur sudah mengingatkan bahwa semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama sejak sebelum kemerdekaan 1945.

“Ansor mewarisi peran Gus Dur akan menjaga kepentingan seluruh warga negara dari suku dan etnis manapun yang mengakui Pancasila dan UUD ’45,” tegasnya (*)