oleh

Solusi Layanan Masa Pandemi DPK Lotim Adakan Bincang Literasi secara Daring

banner 300500

Bulan September dicanangkan pemerintah sebagai bulan gemar membaca, karena 8 September adalah Hari Aksara Internasional dan 14 September sebagai Hari Kunjung perpustakaan. Dari itu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Lombok Timur (Lotim) gelar diskusi Daring bertajuk Bincang Literasi Daring (BILING) seri pertama.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Momentum ini menjadi semangat DPK Lotim untuk bangkitkan semangat literasi sehingga pada hari Selasa, 1 September 2020 DPK Lotim telah mengadakan kegiatan pelibatan masyarakat berbasis daring (online) dengan tajuk Bincang Literasi Daring (BILING) seri pertama.

Kegiatan ini mengambil topik Layanan Perpustakaan Masa Pandemi dan Aplikasi Mendeley untuk Sitasi dan Daftar Pustaka. Pemateri yang menyampaikan materi yaitu Muh. Amin Kutbi, S.Sos selaku Kabid Perpustakaan DPK Lotim, Lalu Nasrun, S.IP.,MM Kasi Layanan dan Otomasi DPK Lotim dan Rosmini seorang Pegiat Literasi & Mahasiswa Universitas Diponegoro.

Kegiatan BILING dilaksanakan via daring dengan aplikasi video conference (google meet) sebagai sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman dari masing-masing narasumber.

Peserta kegiatan ini tidak hanya berasal dari NTB saja namun juga dari Medan, Palembang, Jakarta dan Semarang. Tidak hanya diikuti mahasiswa namun juga pustakawan, guru dan pengelola perpustakaan desa.

Kabid Perpustakaan, Muh. Amin Kutbi menjadi pemateri pertama dengan materi Strategi Layanan Perpustakaan di Masa Pandemi. Ia menyampaikan beberapa strategi perpustakaan agar dapat tetap memberikan pelayanan dan menyebarluaskan informasi meski dilanda pandemic ataupun di masa kenormalan baru sesuai protokol kesehatan.

Tegasnya, “pemanfaatan aplikasi teknologi menjadi poin utamanya. Perpustakaan dapat menyediakan koleksi buku bacaan berbasis online seperti perpustakaan Daerah Lotim miliki yaitu ilotim. Pembaca cukup mendowload di playstore untuk dapat membaca buku hanya melalui genggaman saja,” katanya.

Kemudian lanjutnya, “memanfaatkan media sosial atau platform digital untuk promosi maupun kegiatan pelibatan masyarakat seperti facebook, instagram, whatsapp, zoom ataupun google meet. Peran pustakawan pun perlu ditingkatkan dalam membangun komunikasi dan ketrampilan untuk mengelola perpustakaan yang konvensional menuju system digitalisasi,” sarannya.

Selain hal teknis itu, dirinya juga menegaskan jika hal penting yang harus dilakukan adalah melakukan advokasi kepada stakeholder terkait atau pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan perpustakaan.

Pemateri kedua Lalu Nasrun, menyampaikan materi tentang Layanan Perpustakaan. Di mana beliau merincikan ada 4 jenis perpustakaan berdasarkan layanannya yaitu perpustakaan konvensional, digital, hibrida dan bookless.

“Perpustakaan konvensional adalah koleksi dan layanannya masih murni manual atau konvensional tanpa bantuan computer/internet, sehingga mengutamakan koleksi tercetak saja. Perpustakaan digital adalah koleksinya ada yang tercetak dan elektronik serta layananya sudah mulai memakai bantuan komputer/internet, namun koleksi elektronik lebih diprioritaskan ketimbang tercetak,” ulasnya.

Sambungnya dalam penjelasannya, “perpustakaan Hibrida adalah perpustakaan gabungan/kombinasi antara konvensional dan digital. Di mana koleksi tercetak dan elektronik atau berbasis digital seimbang dan layanan sudah sepenuhnya berbasis komputer. Sedangkan Perpustakaan Bookless adalah perpustakaan yang koleksi dan layanannya semuanya berbasis digital tanpa bahan cetak. Membacanya pun menggunakan e-reader. Contoh perpustakaan bookless seperti ilotim,” sambungnya.

Pemateri ketiga Rosmini, menyampaikan materi tentang Aplikasi mendeley untuk sitasi dan daftar pustaka.

“Sitasi adalah kutipan atau pembuatan kutipan sedangkan daftar pustaka adalah sumber rujukan yang dijadikan referensi atau kutipan dalam menyusun karya tulis ilmiah. Aplikasi mendeley ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, guru, pustakawan ataupun dosen yang sering menyusun karya tulis ilmiah,”paparnya.

Aplikasi ini dapat otomatis menyusun sistematika daftar pustaka yang baku berdasar kutipan kita di buku ataupun jurnal. Aplikasi ini juga dikembangkan sebagai rujukan untuk anti plagiat atupun duplikasi karya.

Kegiatan yang dimoderatori Pustakawan DPK Lotim, Andrea Ardi Ananda, S.Hum ini berjalan interaktif. Rupanya topik yang diangkat mengundang rasa keingintahuan peserta dan tidak cukup hanya dibahas dalam waktu yang singkat.

Selain itu setiap peserta mendapat e-Sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Dinas DPK Lotim, tentu ini juga menjadi daya tarik dan nilai tambah dari kegiatan BILING.

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi NTB, Hermin Riu yang juga Pustakawan Teladan Provinsi NTB tahun 2017 dan anggota Tim Sinergi provinsi NTB mengatakan salut dengan kegiatan DPK Lotim seperti ini dan sudah seharusnya perpustakaan menjadi pionir sebagai lembaga informasi yang terdepan apalagi di masa pandemi.

“Saya salut dengan kegiatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Timur, sudah saatnya perpustakaan menjadi pionir lembaga informasi di saat era pandemic,” tegasnya.

Kabid Perpustakaan, Muh.amin Kutbi menjelaskan jika kegiatan perdana ini menjadi inovasi DPK Lotim untuk menyebarluaskan informasi dan pengetahuan berbasis daring. Cakupan dan jangkauannya pun tidak hanya lingkup Lombok timur atau NTB saja tetapi menjangkau seluruh Indonesia.

“Di edisi perdana BILING ini tentu masih ada kendala-kendala yang terjadi namun ini menjadi pembelajaran dan evaluasi untuk kegiatan seri selanjutnya,” kata Muh. Amin. (Cr-Pin).

BERITA TERKAIT