oleh

Resensi Buku Kiai Langgar and Kelebun: A Studi on Contestation Between Cultural Brokers in A Non-Pesantren Village in Madura, Indonesia

BUKU INI atau lebih tepatnya hasil penetilian (tesis) karya Muhammad Endy Saputro yang dibukukan ini adalah kajian antropologi yang melihat kepemimpinan lokal di salah satu desa daerah Madura, Gapurana. Buku ini menarik, karena kebiasaan kajian antrophologi yang mengkaji tentang kepemimpinan lokal di Madura masih terbatas pada kajian Kiai. Yang mana Kiai memainkan peranan penting dalam setiap kehidupan masyarakat, Maduara pada umumnya. Sehingga Kiai menjadi pemimpin lokal yang sangat disegani. Menariknya di Desa Gapurana berbeda, kepemimpinan lokal, atau disebut dengan Kelebun (kepala desa) lebih dihormati dibandingkan dengan Kiai.


Buku terbitan Graduate School UGM (2009) membahas tentang cultural broker dalam sebuah konteks kontestasi, dua kepemimpinan lokal; dua tradisi Islam dalam perspektif yang berbeda. Apa itu cultural broker? Istilah cultural broker” pertama kali dikenalkan oleh Eric Wolf dalam agen sosial. Seorang culture broker berfungsi secara selektif memperkenalkan budaya modern kepada komoditas tradisional (Wolf, 1956); secara adaptif membawa budaya urban ke komunitas desa (Loffer, 1971); secara selektif menginterpretasikan isu-isu nasional ke komunitas lokal (Geerts, 1960); menyambungkan komunitas lokal dengan komunitas besar di luar .( Kantorwijoyo, 2002).


Studi cultural broker dalam buku ini melibatkan kepemimpinan lokal dalam institusi tradisi. Ada dua tipe cultural broker yang diangkat, Kelebun (kepala desa) dan Kiai Langgar (Kiai yang mengisi di Langgar permukiman). Keduanya sama-sama beragama, akan tetapi memiliki perspektif tentang agama yang berbeda. Ini menjadi point untuk melihat agama sebagai, meminjam istilah Talal Asad, diskursus tradisi.


Untuk melihat Islam sebagai sebuah agama, memahami Islam sebagai sebuah tradisi. Talal Asad mengatakan bahwa tradisi meliputi tiga aspek. Pertama, adalah diskursus tentang sejarah. Talal Asad mengusulkan bahwa sebuah tradisi pada esensinya adalah diskursus, yang mencari praktek berkaitan dengan bentuk yang benar dari tujuan yang diberikannya praktik tersebut. Karena itu, sudah terbentuk menjadi sejarah. Stetmen ini memperkuat bahwa tradisi memiliki geneologi yang dapat ditelusuri melalui sejarah.


Kedua, diskursus tentang tradisi begitu dinamis dan mencakup praktik-praktik masa lampau, sekarang dan akan datang. Mereka memiliki akar pada praktik terdahulu. Tradisi melalui transmisi pengetahuan dari generasi ke generasi. Dengan belalunya waktu, penelusurasn secara diakronik memungkinkan modifikasi, transformasi, bahkan mengeliminasi tradisi. Selanjutnya, praktik tradisi yang ada sekarang berkaitan erat terhadap institusi dan kondisi social di mana mereka praktikkan (Asad; 1996: 398).

Ketiga, ketika keterlibatan praktik-praktik dalam masyarakat, agama dirasakan sebagai representasi dan struktur kosmologi masyarakat. Berkaitan dengan yang pertama, erat hubungannya dengan dimensi synkronik. Sedangkan dalam domain yang terakhir, tradisi terkait dengan aspek diakronik, atau secara definisi proses sejarah tradisi. Karena itu, agama dalam kehidupan sehari-hari akan menggambarkan seluk-beluk social dalam kontek sejarahnya. (Asad, 2002; dan Bowen, 1998; 161-178).


Terakhir, terkait dengan tradisi, Talal Asad, berpendapat bahwa “apa saja yang terrepresentasikan dari tradisi itu dapat diprebutkan”. Dalam hubungannya dengan penjelasan tersebut, konterstasi dalam kasus ini merujuk pada konterstasi dalam ruang domain diakronik. Dengan kata lain, tradisi memandang dengan cara yang berbeda dalam kontek yang berbeda pula.
Gapurana menyuguhkan sebuah contoh yang mana “kontestasi” elemen-elemen tersebut diterapkan. Kelebun dan Kiai Langgara memiliki domain perspektif tradisi mereka masing-masing. Untuk menyederhankan istilah ini, tradisi Kelebun untuk merujuk domain Kelebun, dan begitu juga Kiai Langgar mengunakan domain tradisi Kiai Langgara. Keduanya ditemukan dalam Islam tetapi berbeda perspektif.


Dalam penelitian ini, diskursus tradisi tidak hanya menganggap hanya memahami proses geneologi dan perwujudannya serta praktik-praktik institusi, tetapi juga menjadi tempat konterstasi. Kontestasi dalam konteks ini mengandaikan tidak hanya secara diakronik berlangsungnya tradisi, melainkan juga kontestasi praktik tradisi di bawah kesadaran yang berbeda.


Aspek pelacakan geneologi, praktik dan institusi tradisi di Desa Gapurana mencari jawaban atas pertanyaan mengapa penduduk desa Gapurana lebih menghormati Kelebun dibandingkan dengan Kiai Langgar. Kedua tradisi ini menempati dalam konteks sebauh konterstasi untuk menemukan kenapa penduduk desa Gupurana lebih hormat kepada Kelebun daripada Kiai Langgar.
Penelitian ini menekankan pentingnya institusi dalam membangun struktur masyarakat Gapurana dan Madura secara umum. Analisi institusi mengindikasikan bahwa sebuah resepsi pernikahan sebagai ruang institusi Kelebun dalam memproduksi charisma Kelebun dengan cara yang sama juga sebuah langgar tempat memproduksi charisma Kiai langgar. Dengan alasan ini, diskusi tentang kharismatik tidak menjadi sorotan dalam penelitian ini.

Oleh: Muh.Samsul Anwar, M.A. Direktur Lembaga Kajian Islam dan Kebangsaan Nahdlatul Wathan (LKIK NW)