oleh

Persatuan Atau Bubarkan; Refleksi 73 Tahun HMI

-Aspirasi, Opini-307 views

Jakarta Corongrakyat.co.id- Nurkholis Madjid pernah berkata; Sudah saatnya HMI di bubarkan. Hari ini kita di pertontonkan dengan dinamika yang begitu alot sampai pengkaderan tingkat cabang berdampak sistemik, hanya untuk merebut pimpinan di tubuh organisasi yang berlumuran darah dan dahaga kekuasaan. Apakah pantas di bubarkan?

Terhitung beberapa kali mengikuti kongres HMI tidak ada lagi kepingan hikmah yang bisa kita ambil sebgai embun ilmu pengetahuan yang bisa di petik untuk kita syiarkan kepada ummat dan bangsa, yang sampai hari ini selalu di dengungkan oleh jutaan kader himpunan seantero Nusantara.

Saya selalu terharu biru dan sedih membaca berita tentang perilaku sekelompok kader yang membuat keributan disetiap kongres, bahkan pemilihan pengurus komisariat, yang sangat brutal terjadi bagaikan preman. Apakah pantas di bubarkan?

Saya cukup lama bergaul dengan teman-teman yang aktif di Pengurus Besar (PB) HMI. Setiap ketemu mereka, saya selalu merasa risih. Saya tidak lagi merasakan aroma intelektualitas dan spiritualitas. Bahasa intelek dan spiritual seakan menjadi nyanyi sunyi di kalangan kader. Mereka selalu membanggakan dirinya yang dekat dengan pejabat A atau B yang dekat dengan elite politik tertentu.

Mereka bangga dengan abangnya yang jadi anggota DPR, mereka banggga bisa berfoto dengan Presiden, di satu sisi ummat Islam terpecah belah di tataran bawah, dimana peran kader HMI yang bernafaskan Islam?

HMI Unite atau persatuan kader untuk ummat dan bangsa sangat diharapkan, kita berharap ada embun pagi sejuk yang tiba untuk menghijaukan di rumah organisasi tertua ini, tapi kalau tidak mau tahu persoalan ummat, maka hanya akan menjadi dongeng, sedangkan kondisi hari ini Isalam yang selalu di tuduh radikal, dan menjadi imbas politik identitas, dimana peran HMI?

Kepingan kenyataan tentang HMI, saya selalu merasa sedih. Betapa tidak, sebuah organisasi yang mengklaim dirinya sebagai intelektual, selalu saja berbuat onar dengan dalih atas nama kepentingan orang banyak. Sebuah organisasi yang menyebut dirinya bernapaskan Islam, namun semua tindakannya seakan sangat jauh dari semangat kedamaian Islam yang dihembuskan oleh Rasul di muka bumi ini.

Sebuah organisasi yang katanya punya sejarah melahirkan intelektual Islam, bisa bertindak seperti preman yaitu menyandera kapal, menyulitkan begitu banyak rakyat yang hendak menggunakan kapal tersebut, menebar teror dan ketakutan, dan di saat bersamaan, masih mengklaim dirinya sebagai pembawa hati nurani rakyat Inikah potret HMI? Inikah potret buram dari organisasi Islam di Indonesia?

Lafran Pane sebagai pendiri organisasi tertua ini, dulu tujuannya untuk mencerahkan dan menerangi ummat yang tersesat dalam gelap gulita, ummat yang terpecah belah sampai kepada merdekanya Republik ini. Sekarang dia bukan hanya dikenal kalangan Himpunan Mahasiswa Islam, lebih dari itu namanya kini dikenal oleh rakyat Indonesia secara umum. Mampukah kita menjaga nama baik pahlawan ini, kalau kita selaku warga HMI terus menerus budayakan konflik yang haus dengan kekuasaan, maka organisasi tertua ini akan lenyap oleh zamannya sendiri.

Seringkali ada salah kaprah terhadap organisasi tertua ini, yang hanya merespon hal-hal yang sedang hangat di publik. Ruh paling utama dari organisasi ini adalah pengkaderan. Maka ledakan pengkaderan itu disemua kampus. Karena yang kita siapkan di sini adalah sumberdaya manusia yang kuat dan mumpuni. Lembaga ini membuka ruang pengkaderan pada siapapun, tanpa memandang kapasitas, pengetahuan, atau kemampuan memahami ajaran agama.

Apakah kita warga himpunan masih ingin mencetak Lafran Pane selanjutnya? Kalau kita sepakat, maka persatuan organisasi dari akar rumput harus kita rawat dengan baik. Salam “HMI Unite” Persatuan ummat dan bangsa, Yakin Usaha Sampai.*

Saiful Hadi
Wasekjen Eksternal PB HMI