oleh

Pariwisata dan Kesejahteraan, Pembuktian Nyata Desa Kembang Kuning Bagi Warganya

Pariwisata adalah harapan masa depan. Konsep pengembangan pariwisata terkini berbasis desa (desa wisata). Hal itu nyata menciptakan kesejahteraan, Desa Kembang Kuning telah membuktikannya.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Lombok Timur sebagai daerah tujuan wisata tidak pernah ada habisnya. Daerah ini begitu kaya, dan menyimpan beranekaragam potensi destinasi pada relief dan bentang alam yang dimilikinya.

Publik mengakui itu, baik dari destinasi bahari, ekowisata pegunungan, sampai dengan wisata budaya tersedia dalam satu simpul.

Sebagai suatu keunggulan bagi Lombok Timur, semua segmen destinasi itu relatif bisa ditempuh cepat, karena terintegrasi oleh akses aksesibilitas infrastruktur yang laik, cepat dan efisien.

Terpenting, semua destinasi pariwisata di daerah ini murah!

Salah satu lokasi destinasi pariwisata wajib dikunjungi di Lombok Timur, khususnya segmen destinasi ekowisata pegunungan terletak di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur.

Suatu desa ekowisata asri yang hanya membutuhkan waktu tempuh 1,5 jam dari Bandara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid (BILZAM) Praya, yang bisa ditempuh lewat jasa travel.

Pariwisata di Desa ini begitu mencolok, sebab dalam sistem pengelolaan pariwisata di tempat ini terjalin sinergi dan kesepahaman antara masyarakat, pengelola dan pemerintah desa. Dan jlebb! Pesatlah desa ini oleh sektor pariwisata.

Tidak mengherankan, dengan harmonisasi unsur di Desa Kembang Kuning ini, untuk memajukan pariwisata, menjadikannya pusat perhatian.

Bahkan desa ini menjadi rujukan desa terdekat, serta desa dan lembaga dari luar daerah untuk melakukan studi banding dalam mengelola potensi kepariwisataan dengan optimal seperti di Desa Kembang Kuning.

“Kemarin ada pelatihan-pelatihan, ada dari Lombok Utara terkait tentang destinasi dan tata kelola homestay, datang studi banding ke sini jumlahnya 70 orang,” kata H. Lalu Sujian, S.H., selaku Kepala Desa Kembang Kuning.

Selain dipilih menjadi objek studi banding dan pelatihan oleh pelaku pariwisata dalam sekup lokal (provinsi). Desa Kembang Kuning dipilih juga oleh pelaku pariwisata nasional untuk menjadikannya sebagai episentrum kegiatan (studi banding).

Salah satunya adalah kegiatan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), sekalipun ditunda pelaksanaannya karena Pandemi Covid-19, tapi tetap itu adalah prestasi Desa Kembang Kuning yang harus diapresiasi.

“Ada juga rencana pelatihan Masyarakat Ekonomi Syariah, yang memilih desa kami, tapi kondisinya begini (Covid-19) jadi ditunda, tapi nanti akan dilaksanakan di tempat kami,” imbuhnya.

Homestay (gazebo-gazebo) ikonik artistik dan penuh makna estetik dengan design tradisional Sasak yang dipadukan alami, dengan view landskap hijaunya perbukitan dan hutan kawasan Rinjani, ditambah pula energi positif dari keramahan warga, memacu kunjungan wisatawan domestik pun mancanegara di desa ini.

“Kunjungan wisatawan ke Kembang Kuning banyak sekali. Dari wisatawan mancanegara saja di tahun 2019 sebelum Covid itu mencapai 3000 orang, belum domestik. Itu dapat dilihat dari Traveloka dan Boking.com,” katanya.

Jangan tanyakan hawanya, jelas sejuk segar menyertai sepanjang hari para wisatawan, berkeliling desa atau menginap pada homestay yang tersedia. Wajar wisatawan mancanegara betah dan mengulang kembali kunjungan di destinasi tempat ini.

“Kita punya kurang lebih 100 kamar, itu dikelola oleh masyarakat, Pokdarwis dan BUMDes,” tuturnya.

Sujian menjabarkan, ada tiga andalan utama Desa Kembang Kuning bagi para wisatawan, pertama tentu eksotisme cakrawala alam, air terjun, dan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) warganya yang artistik.

“Ada tiga andalan kami di sana pertama panorama alam, beberapa air terjun, ada Air terjun Burung Walet, Air Terjun Seme Deye, Air terjun Ulem-ulem, Air Terjun Kokok Duren dan Air terjun Jeruk Manis, selain itu juga ada tentu produk UMKM warga kami,” paparnya.

Dengan realitas itu, laik Desa Kembang Kuning satu tingkat lebih tinggi dari desa yang lain. Sebab pariwisata dikelola secara profesional menghasilkan multi player effect ekonomi. Terciptalah kesejahteraan masyarakat.

“PADes kami dari sektor pariwisata ini mencapai 300-400 juta per tahunnya, dan itu sangat membantu kami dan masyarakat,” tekasnya.

Keberhasilan Desa Kembang Kuning dalam mengelola potensi wisata sehingga mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat laik menjadi perenungan stakeholder terkait. Khususnya bagi desa-desa yang lain di Gumi Patuh Karya mesti mengoptimalkan potensi yang ada.

Upaya itu tentu akan berhasil, tatkala kebijakan, kesadaran masyarakat dan peran lembaga desa/pemerintah, berkolaborasi dalam satu warna. Membentuk modal sosial taktis dan luwes yang didukung oleh jaringan yang luas. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT