oleh

Pameran Seni Rupa “Rasa Masa dan Massa” saat Pandemi

banner 300500

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id -Pada bulan Juli ini sebuah perhelatan seni rupa bertajuk “rasa masa dan massa” akan digelar di desa Lendang Nangka Lombok Timur. Pemeran yang menyajikan 20 karya perupa Lombok Timur ini, di prakarsai Saprul Anwar yang akrab di sapa “phalonk”.

Saprul Anwar Memlilih rumah warga sebagai lokasi pemasangan karya-karyanya pameran ini, layaknya sebuah etalase baru dalam melihat gagasan para seniman dimasa pandemi. Pergerakan dunia seni yang berbasis pada kantong-kantong seni non komerisl (seperti ruang seni), selayaknya mulai disemai di Nusa Tenggara Barat.

“Keberadaan seni yang dimulai dari sudut-sudut kampung, tidak menutup kemungkinan akan memberikan dampak yang siginifikan terhadap tingkat apresiasi masyarakat. Kenapa tidak, karena tanpa sekat yang kuat setiap individu dalam domain batas wilayah tersebut dapat menjadi bagian penting lahir dan keberlangsungan karya-karya tersebuttersebut,” Paparnya. 28/07.

Phalonk menambahkan, Pameran ini akan dilangsungkan dirumah-rumah warga. Pameran “rasa masa dan massa” akan berlangsung selama pada 25 Juli hingga 3 Agustus 2020. Sebagai rangkain dari kegiatn ini, akan diadakan beberapa kegiatan yang melukis mural dan bincang seni. Dihelatnya kegiatan ini, tentu menjadi sebuah langkah penting untuk mendekatkan masyarakat dengan dunia seni. Secara keseluruhan karya dalam pameran ini akan menyajikan karya dwi matra dengan eksplorsi teknik yang beragam.

Menurutnya Rasa masa dan massa menjadi tema yang menganalogikan kilasan waktu, para seniman dalam mewujudkan ide dan gagasan mereka dalam sebuah karya. Pemaknaan massa sebagai sebuah kesatuan perkumpulan, menjadi penanda tentang dunia seni rupa dan warganya (massa).

“Pada titik ini, kita dapat menarik sebuah benang merah terkait dunia seni rupa dan massa adalah irisan penting penopang wacana kesenian dalam sebuah medan seni ada,” Imbuhnya.

Lebih jauh dirinya menguraikan, Keberlangsungan pameran ini bagi dirinya pribadi dapat dianalogikan sebagai ajang “temu karya” para seniman ditengah keterbatasan ruang interaksi yang kian mengekang.

Phalonk berharap, Temu karya semacam ini, sepatutnya disambut baik, sebagai sebuah ruang “tamasya estetik” para seniman di tengah kefakuman ruang kretaifitas yang mereka rasakan. Keterbatasan ruang gerak dan pembatasan interaksi di tengah masyarakat, menjadi tentangan berat terselenggaranya kegiatan ini.

“Penerapan berbagai protokol kesehatan adalah salah satu langkah positif suksesnya kegiatan ini. Semoga dengan adanya temu karya para seniman dalam pameran ini, dapat membantu pemulihan jejaring kreatifitas yang memicu setiap diri kita untuk terus bergerak dan mencipta sesuatu,”Harapnya. (Cr-Wenk).