oleh

Otak Aik Tojang, Potensi Destinasi Wisata Baru yang Rindu Perhatian

Satu lagi destinasi pariwisata baru yang ada di Lombok Timur. Nama destinasi baru ini mata air Otak Aik Tojang. Objek wisata baru ini sangat potensial, dan membutuhkan sinergi bersama dalam pengembangannya. Hal terpenting untuk realisasi itu adalah kolaborasi antara partisipasi masyarakat, lembaga penggerak wisata dan kebijakan khusus pemerintah.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Otak Aik Tojang merupakan salah satu obyek wisata alam yang tersembunyi diKecamatan Masbagik, tepatnya di Desa Lendang Nangka, Dusun Gelogor. Melihat objek wisata ini, begitu potensial menjadi destinasi unggulan daerah, sehingga membutuhkan perhatian khusus pemerintah untuk optimalisasinya.

Sumber mata air dengan debit 850 liter per detik ini begitu menarik dan strategis untuk pariwisata. Namun saat ini, mata air Otak Aik Tojang lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan irigasi pertanian, dan dimanfaatkan juga oleh PDAM Lotim.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Wisata Otak Aik Tojang, Samsul Bahri menyebutkan, sebenarnya obyek wisata tersebut dimiliki oleh beberapa instansi. Sebab mata air ini ada yang masuk ke kawasan hutan dan sebagiannya lagi merupakan aset milik Pemkab Lotim, sementara sebagian areal sumber mata air ini juga merupakan bendungan penyangga milik Pemprov NTB.

“Kawasannya berada dengan luas sekitar 32 hektar dan didalamnya ada bendungan,” sebutnya.

Ia mengatakan, mata air ini baru dikelola menjadi destinasi wisata sekitar satu tahun terakhir. Tapi butuh perhatian lebih untuk menambah daya tarik serta promosi kepada khalayak luas.

“Baru berjalan berjalan beberapa saat rupanya kebutuhan air buat para petani meningkat dan membuat air tidak bisa dibendung,” katanya.

Permasalahan utama di obyek wisata Aik Tojang saat ini adalah sistem menjemen pengelolaan yang masih saling tarik ulur. Sebut saja saat air butuh untuk dibendung tidak bisa dilakukan. Ini karena airnya mengalir seperti sungai. Praktis, pihaknya bisa memaklumi saat petani membutuhkan air untuk keperluan irigasi.

Dari tumpang tindih kebutuhannya itu, tentu berpengaruh terhadap debit air untuk kepentingan pariwisata.

“Dampak yang sering terlihat adalah terjadinya pemanfaatan air yang tidak terkelola dengan baik dan menyebabkan kawasan tidak maksimal,” ujarnya.

Secara fisik, bendungan yang dibangun pada tahun 1970-an ini membutuhkan renovasi. Hal itu bisa dilihat dari beberapa bagian bendungan yang nampak rapuh.

Selain itu, saat ini dasar bendungan terus menerus tersedimentasi akibat erosi dari arah lahan yang lebih tinggi. Belum lagi akibat sampah dan lumpur kiriman dari hulu.

Bersama pemuda di desa itu, jelasnya, ia mencoba menginventaris semua kebutuhan dan permasalahan dan disampaikan ke pemerintah daerah. Dan saat ini masih menanti jawaban.

“Setelah kami mengelola, kami banyak melibatkan pemuda sebab ada dampaknya secara ekonomi,” tuturnya.

Dikatakannya, pihaknya terus berusaha keras mencari solusi. Salah satunya, secara teknis tentang kebutuhan pengelola yang bisa dipenuhi dalam mengembangkan obyek wisata tersebut.

“Alhamdulillah sudah masuk jadi salah satu obyek pembangunan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur,” sebutnya.

Sampai saat ini, jelasnya, pemerintah desa belum memiliki andil dalam menata obyek tersebut. Hanya saja  beberapa waktu yang lalu pemerintah desa pernah menganggarkan perbaikan rumah jaga.

“Ada kesulitan dalam mengalokasikan dana desa ke sana. Sebab wilayah itu tidak masuk wilayah desa,”sebutnya.

Bahri mengakui bahwa, saat ini pihaknya masih kesulitan dalam mengelola obyek wisata tersebut. Penyebabnya karena dalam melakukan sebuah perubahan segala sesuatu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sementara saat ini situasi sedang sepi dan obyek wisata sedang ditutup.

“Ya kita istirahat aja dulu. Untuk saat ini kami hanya melibatkan beberapa pemuda yang dekat dengan lokasi wisata itu untuk menjaganya dan sampai saat ini kami sedang menunggu solusi yang sudah didesain tentang pembangunan kedepan,” katanya.

Sementara salah satu tokoh pemuda setempat yang konsen dalam upaya pengembangan Otak Aik Tojang sebagai objek wisata, Aditya Aprian Suari menyatakan yang dibutuhkan dalam pengembangan Otak Aik Tojang adalah partisipasi masyarakat.

“Yang paling dibutuhkan untuk menjadikan Otak Aik Tojang menjadi objek destinasi wisata baru yang unggul adalah partisipasi masyarakat dan pemahamannya yang sama,” katanya.

Dirinya juga mengatakan, untuk menguatkan dan mempercepat realisasi Otak Aik Tojang sebagai destinasi wisata baru, sangat dibutuhkan campur tangan swasta atau pihak ketiga, yang memang konsen untuk bisnis. Karena tegasnya juga, pariwisata adalah Industri.

“Realisasi Otak Aik Tojang menjadi destinasi baru yang unggul, tentu juga membutuhkan intervensi pihak swasta dalam pengelolaannya, dengan masuknya pihak swasta tentu manajemen pengelolaannya akan rapi dan terarah. Karena ingat, tetap pariwisata itu adalah industri,” tegasnya.

Sekalipun dirinya mengutarakan itu, tapi terangnya juga didalam pengelolaan Otak Aik Tojang tidak boleh menghilangkan peran dan kebutuhan masyarakat sekitar, namun harus diberdayakan dan dilibatkan.

“Tapi tetap jikapun peran swasta dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata, tapi tentu harus melibatkan masyarakat sekitar. Tanpa pelibatan masyarakat sekitar, saya rasa upaya-upaya itu juga akan semu untuk menggairahkan Otak Aik Tojang menjadi destinasi wisata,” paparnya. (Cr-Pin)