oleh

Menakar Kesungguhan Berpancasila

LOMBOK TIMUR,Corongrakyat.co.id -Pendidikan Kewarganegaraan “perlu”, disambing belajar ilmu yang lain, lebih lagi saat mendalami ilmu agama, karena agama dan negara adalah kepingan mata uang yang tidak mungkin dipisah satu sama lain.

Alasan belajar agama sangat mulia, sebagai katup penyelamat dari banjirnya pemahaman akibat digitalisasi dan hoax yang sangat “Ripus” (cepat beranak pinak). Juga belajar keilmuan lainnya memiliki andil dan peran yang sama dengan agama sebagai bendungan penampung yang dapat mengalir kesegala arah dan lini kehidupan.

Sejak TGB, dengan platporm “Santri” berhasil masuk kejantung ibukota atas debutnya selama memimpin NTB “dua periode” memberi warna berbeda dalam alam Demokrasi. Khususnya indonesia, tanda itu kian menguat dengan munculnya banyak tokoh organisasi keagamaan masuk “Gelanggang” politik.

Dukungan tekhnologi juga memberikan ruang yang segar bagi “tumbuh suburnya” kebebasan berpendapat diindonesia, hampir tidak ada kendala, bahkan indonesi masih berjibaku dengan kuatnya arus Radikalisasi dan hantaman kaum Rasionalis yang mengatas namakan Sains.

Dua nominasi diatas kemudian menjelma pisau bermata ganda, keatas menghisap kuat pohon ketuhanan atau keberagamaan dan kebawah mengikis Humanisasi yang berakibat memunculkan Dehumanisasi. Keduanya sama sama memicu konflik horizontal dan meruntuhkan sendi kenegaraan.

Sampai disini tawaran menghadirkan pancasila sebagai Ideologi dan Narasi besar bangsa Indonesia patut di aplaus, Selain sebagai benteng pertahanan yang kokoh pancasila mampu menjadi pelumas sekaligus Katalisator Etnosenteime, Primordialisme dengan mewujudkan Kebhinekaan yang Manusiawi, berdiri dama tinggi dan duduk sama rendah.

Alasan kedua dengan hadirnya pancasila sebagai dasar negara mampu menghadirkan dua simetris yang bersinggungan namun tidak bertentangan satu sama lain, Vertikal dan Horizontal sekaligus.Selamat harlah Pancasila 01 Juni 2020. (CR-Wenk).

OLEH; Charil Anwar, jurnalis kampung media.