oleh

Dampak Covid-19 di Bulan Ramadhan

banner 300500

CORONA VIRUS adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis corona virus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severa Acute Respiratory (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit Covid-19.

Gejala-gejala Covid-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalamai rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala yang dialami biasannya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun  dan tetap merasa sehat. Sebagian besar (sekitar 80%) orang yang termasuk berhasil pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitaar 1 dari 6 orang yang terjangkit Covid-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernapas. Orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung atau diabetes, punya kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius. Mereka yang menglami demam, batuk dan kesulitan bernapas  sebaiknya mencari pertolongan medis.

Orang dapat tertular Covid-19 dari orang lain yang terjangkit virus ini. Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui  prcikan-percikan dari hidung  atau mulut yang keluar saat orang terjangkit Covid-19 batuk atau mengeluarkan panas. Percikan-percikan ini kemudian jatuh ke benda-benda dan permukaan-permukaan di sekitar. Orang yang menyentuh benda atau permukaan terssebut lalu menyentuh mata, hidung atau mulutnya, dapat terjangkit Covid-19. Penularan Covid-19  juga dapat terjadi jika orang menghirup percikan yang keluar dari batuk atau napas orang yang terjangkit Covid-19. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang yang sakit.

Pandemi mematikan tersebut tidak tidak pandang bulu,siapapun orangnya (kaya atau miskin, muda ataupun tua dan sebagainya) bisa tertular Covid-19. Karenanya, ibadah puasa di tengah wabah Covid-19 me-restart diri manusia agar merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.Selain itu, kita berharap puasa ditengah Pandemi tidak hanya mampu menumbuhkan kepekaan spritual seseorang, namun juga kepekaan sosial. Wujud dari kepekaan sosial ialah sikap empati dan pro-sosial.

Empati berarti suatu keadaan  dimana orang merasa dirinya  berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain.Sedangkan pro-sosial  merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan.

Pandemi virus corona baru  membuat suasan ramadhan sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Banyak tempat ibadah ditutup guna membendung penyebaran Virus Corona-19. Ramadhan umumnya dimulai pada malam hari,tanggal 24 April dan mencapai puncaknya pada tanggal 24 Mei 2020.

Selama periode 30 hari,umat islam berpuasa disiang hari, sebuah praktik yang dipandang sebagai salah satu dari Lima rukun islam.Umat muslim percaya bahwa dalam Al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad selama bulan sicu ini. Bagi umat Islam, sebagian besar bulan suci terdiri dari do’a malam khusus yang disebut “terawih” yang diadakan setiap hari di masjid dan dilakukan oleh imam, pemimppin doa masjid.

Namun apalah daya kegiatan rutinitas umat islam dihalang oleh Covid-19,yang dimana masyarakat biasa melakukan terawih dimasjid secara berjamaah tapi sekarang hanya bisa melakukan terawih dirumah masing-masing.

Covid-19 memang memiliki dampak negatif tetapi dibalik itu memiliki dampak positif dimana hubungan kekeluargaan lebih akrab,lebih banyak waktu bersama keluarga dirumah, tali sialturahmi dengan keluarga lebih terikat, kepedulian sosial makin meningkat dan punya banyak waktu untuk hal-hal yang di tunda.

Dari semua urain tersebut sehingga membutukan kesabaran dan keikhlasan menerima semua ini namun harus  dibarengi dengan ikhtiar,karena disetiap usia pasti akan datang sakit dan dimintakkan obat, oleh karenanya sekaraang bagaimana kita menghadapi semua itu dengan sama-sama bersyukur masih bisa hidup.

Jumliati, Mahasiswa Prodi Tadris Fisika UIN Mataram

BERITA TERKAIT